Alasan untuk Tidak Menyukai (6-7 Jan 2015)

Sebenarnya, lebih baik mana memiliki hanya sedikit alasan atau banyak alasan untuk tidak menyukai seseorang?

Jika kita memiliki sedikit alasan untuk tidak menyukai orang, maka belum tentu orang yang tidak kita sukai jumlahnya juga sedikit. Tergantung seberapa remeh alasan itu. Makin remeh maka membuka kemungkinan akan banyak orang yang masuk daftar yang tidak disukai.

Tetapi, makin berarti/fundamental/bermakna alasannya, tidak lantas menjamin bahwa jumlah orang yang tidak disukai akan menyusut drastis. Kalaupun alasan fundamental menjadikan jumlah orang tidak disukai lebih sedikit dibanding dengan alasan remeh, tetapi tetap tidak mampu menghapus/menghilangkan semua list.
Jadi, alasan tidak menyukai baik banyak maupun sedikit, baik remeh maupun fundamental tetap AKAN menghasilkan daftar/list orang yang tidak disukai.

Alasan tidak menyukai seaeorang pasti ada di pikiran & hati setiap orang. Lalu, apakah list itu memang harus ada/tercipta?

Ada atau tidak daftar orang tidak disukai merupakan sebuah pilihan.

Kita bisa memilih utk tidak membenci seseorang atau bahkan  menyukai setiap orang. Paling tidak, kita memutuskan untuk tidak membenci siapapun dengan menjaga ujung tali penilaian/justifikasi agar tetap terbuka.
Karena siapa tahu di kemudian hari orang tersebut memperbaiki sikapnya, maka penilaian kita pun juga harus bergeser sesuai dengan perbaikan yang telah dilakukan.

Jika penilaian kita final, maka pintu perbaikan penilaian akan sulit terbuka. Dan, saat itulah kita sengaja menciptakan suasana hati yang tersiksa atau tidak bahagia.

Jadi, tetap sukai orang lain meskipun kita punya daftar panjang alasan untuk tidak menyukainya.

Leave a comment

Tetesan Embun vs Petir Menyambar (5 jan 2015)

….love is on the way, I can see it in  your eyes…

….time of season, wipes your tears, No rhyme or reason, no more fears….

Lagu berjudul Love is on the Way dari Saigon Kick menemaniku menulis diary kedua kalinya dalam tahun 2015.

Ya, kali ini aku memang akan menulis tentang cinta: bagaimana ia hadir, lewat pintu mana ia masuk, dan durasi waktu ia bisa bertahan. Cinta, yang sejak lama kubolak balik, kupandang dari kejauhan, kuteliti dengan kaca pembesar, ternyata sampai hari ini pun belum kugenggam.

Cinta begitu angkuh bagiku, juga absurd, mungkin. Itu kesimpulanku sampai saat ini meskipun aku telah beberapa kali jatuh cinta, (juga) beberapa kali patah hati. Jadi, impas! Pemasukan sama dengan pengeluaran. Biarpun begitu, tetap meninggalkan residu berbagai cerita menarik, konyol, sakit, lelah, kecewa, dan lain-lain yang terbungkus rapi bertumpuk di pojok hati.

Cinta bisa masuk melalui pintu “petir menyambar” atau pintu “tetesan embun”. Itu istilah yang kuciptakan dengan beberapa sahabatku pada saat kuliah dulu. Istilah petir menyambar untuk menggambarkan situasi “love at the first sight”. Pertemuan dan tatapan pertama seperti petir yang menyambar, berkilau, cepat, berkesan, membuat semua terlihat indah (dan syahdu,tentunya). Tetesan embun untuk mencerminkan kondisi cinta “witing trisno jalaran soko kulino”. Keterlibatan yang intensif menumbuhkan rasa kagum, hormat, peduli, tak rela kehilangan, yang ujungnya adalah cinta seperti tetesan embun yang tak disadari telah menciptakan basah dan kesegaran.

Kami berusia muda saat menciptakan istilah itu. Hanya kondisi yang dikotomi seperti itu yang kami kenal. Hanya pintu samping dan pintu depan menuju ruang cinta yang kami pahami. Masing-masing dari kami memiliki pengalaman jatuh cinta tak jauh dari dua kondisi itu, jadi kami menyimpulkan hanya dua pintu itu yang bisa diakses. Juga plot dalam novel, film, dan lirik lagu pun tak jauh dari dua kondisi itu. Banyak film yang menjual cinta “petir menyambar” penuh dengan langit berwana cerah, bunga-bunga, atau bahkan patah hati yang menyakitkan. Tapi, beberapa film juga mengurai kisah cinta “tetesan embun” yang dikemas dalam percakapan-percakapan panjang yang manis tapi cerdas, persentuhan alami yang berulang, tetapi juga pahitnya perselingkuhan. Jadi, impas! Eksplorasi pintu depan dan pintu samping menuju cinta sama seringnya dan sama berkualitasnya.

So, apakah bisa diranking cara mana yang lebih baik dan cara mana yang lebih awet? Sepertinya tidak bisa. Ini dua pilihan yang sama-sama bermaknanya. Masalah tidak akan muncul jika cerita berujung pada situasi gayung bersambut. Namun, bagaimana jika bertepuk sebelah tangan sehingga menimbulkan korban?

Situasi yang menyulitkan ini bisa terjadi di kehidupan nyata maupun rekaan. Aku beberapa kali terjebak di tengah-tengah situasi yang tidak mengenakkan itu.

Aku pernah jadi pemeran figuran di tengah-tengah dua pemeran utama yang saling jatuh cinta tetapi sama-sama tinggi hati dan keras kepala. Adegan pertama pemeran utama laki-laki tersambar petir ketika menatap pemeran utama perempuan untuk pertama kalinya, namun pemeran utama perempuan tidak bersedia. mungkin butuh waktu berpikir yang lama atau memang cintanya belum tumbuh? Adegan kedua adalah pemeran utama laki-laki patah hati, dan aku menyukainya pada saat ia patah hati tapi tanpa tahu situasi batinnya yang sebenarnya. Aku menyukainya melewati pintu “tetesan embun” karena kami sering berinteraksi. Disana ada tawa yang alami, ada diskusi yang menyulut inspirasi, ada curahan emosi sehari-hari. Adegan ketiga adalah pemeran utama laki-laki sangat patah hati hingga ia tak bisa lagi mencintai orang lain selain pemeran utama perempuan. Ia tak mau lagi membuka hati, Kalaupun ia nantinya akan melangkah ke perkawinan, maka yang ia lakukan semata-mata memiliki motif apa saja selain cinta, misal berbakti pada orang tua, mengikuti sunnah rasul, menjawab norma umum, dan sebagainya. Adegan keempat adalah aku mengetahui posisi dimana berdiri, dan aku tahu diri, aku undur diri, diam-diam, tanpa ia tahu kalau aku menyukainya. Sampai saat ini, aku masih membungkus rapi spot-spot kenangan indah itu dan menyimpannya dalam sudut hati. Adegan kelima, pemeran utama perempuan menjawab cinta pemeran utama laki-laki, mereka menikah, dan happily ever after.

Di film berikutnya, aku menjadi pemeran utama perempuan. Aku menyukainya sejak pertemuan kedua. Pertemuan pertama terjadi tujuh tahun sebelum pertemuan kedua. Pertemuan pertama seperti “petir menyambar” bagiku tapi tidak kuanggap penting hingga selang waktu tujuh tahun tanpa bertemu. Waktu serasa dilipat, tujuh tahun tanpa kabar tidak menjadi halangan bagi kami untuk menjadi saling dekat. Kami menjalani kisah yang sama dengan pasangan-pasangan lainnya, Adegan-adegan dalam cerita kami mulai seru ketika mantan pacarnya tidak terima, keluargaku tidak setuju, keluarganya keberatan. Sampai bertahun-tahun hubungan, kedua kutub tidak bisa bertemu. Ia menemukan kesempatan/peluang yang lebih menjanjikan, rasa cintanya pun dapat teralihkan. Ia menikah dengan pemeran perempuan yang tiba-tiba hadir di ujung kisah tanpa kusadari bahwa sebenarnya ia adalah pemeran utama perempuan, dan aku (ternyata) tetap saja pemeran figuran. Sedihnya, aku baru menyadari kenyataan itu baru di ujung kisah. Kali ini, kenangan manis bercampur dengan sakit hati. Meskipun begitu, tetap kubungkus dengan rapi dan kusimpan di pojok hati.

Dua tahun berselang setelah kisah sedih itu, akhirnya sampai juga pada kisah dua manusia yang sama-sama memasuki ruang cinta dari pintu “tetesan embun” setelah berteman cukup lama, saling tidak peduli dan jarang menyapa. Aku merasa yakin bahwa kami adalah pemeran utama. Proses kami jalani dengan normal, kedua keluarga saling bertemu, tanggal baik mulai dicari. Tetapi, selisih paham terjadi dan tak bisa dielakkan (lagi). Ada yang menginginkan percepatan, tapi ada pihak yang mengharapkan proses lebih baik dijalani dengan santai. Salah paham akhirnya terjadi. Kesantaian dianggap sama dan sebangun dengan ketidakseriusan. Lagi-lagi, dua kutub tak bisa dipertemukan. Aku menyudahi reaksi kimia antar dua manusia dengan residu yang menggunung. Ada banyak pertanyaan di benaknya, ada banyak jawaban di benakku. Aku melarikan diri ke dalam lembar buku-buku diktat kuliah. Aku mengunci diri darinya, ketukan pintu persahabatan darinya pun kudiamkan. Aku tidak ingin menambah tumpukan residu di hatinya. Dua tahun pelarianku ke gunung-gunung, hutan-hutan, lembah-lembah membuatku bisa mulai jernih. Ya, aku sudah bisa beranjak, istilah kerennya adalah “move on”. Aku siap menjalani petir menyambar atau tetesan embun berikutnya dengan seseorang yang bukan dia, seorang (yang sudah kukenal) tetapi dengan kisah yang benar-benar baru.

Tercebur kembali ke dunia kerja setelah mengembara dari gunung, hutan, lembah. Aku kembali menghadapi dunia nyata penuh perseteruan, penuh maksud-maksud tersembunyi, penuh ambisi yang beramunisi. Gegar budaya sekaligus gegar pemikiran terjadi, aku butuh teman berdiskusi untuk menemaniku memaknai kembali dunia kerja yang terasa asing dan sepi. Seseorang hadir yang selalu menantang pemikiranku. Komunikasi kami selalu berwujud perdebatan sengit tapi samar-samar ada perhatian lebih darinya. Aku mulai berusaha mencerna keadaan. Mungkinkan ini bisa dilanjutkan? Ternyata adegan film beranjak menjadi tegang dan tak terkendali. Ada perlakuan darinya yang terasa tidak pas, bahkan mempertaruhkan integritasku sebagai sesama karyawan. Aku kembali mencerna. Akhirnya kupastikan, aku tak punya cukup kesabaran untuk berada disampingnya, mendukung, dan menemaninya. Aku undur diri, baik-baik, dan sepertinya tidak menciptakan residu di hatinya, Adegan film berakhir tanpa ada cerita yang menukik, datar, sedikit getir, mungkin? Kali ini, embun belum benar-benar menetes, belumlah basah, mungkin hanya sedikit hawa lembab yang tercipta…

Lalu, datanglah Mr. Bean, tiba-tiba jatuh dari langit. tanpa tanda-tanda yang bisa kukenali sebelumnya. Aku tiba-tiba dikenalkan dengan seseorang yang baik dan serius. Selama ini aku selalu menghindari cara seperti ini yaitu dikenalkan dengan orang yang benar-benar baru kukenal, bukan teman masa lalu, bukan teman kerja, seseorang yang belum pernah kutemui sama sekali. Aku ngeri dengan seseorang yang benar-benar baru karena harus memulai perkenalan dari nol. Tetapi tawaran itu tetap kuterima. Pikiranku harus berdialog dengan hatiku sejenak untuk membujuk hati hingga berhasil membuang rasa ngeri. Akhirnya, kuputuskan “why not?”. Komunikasi terbuka dengannya, mengalir, lancar, masuk ke ruang-ruang yang sama sekali tak terduga. Gali sana, gali sini. Pembicaraan tentang tujuan hidup digelar, tak sampai selesai, berujung pada sebait salah satu puisinya dikirimkan kepadaku. Pembicaraan tentang jatuh cinta mulai diungkit ke permukaan. Terbukalah diskusi “tetesan embun vs petir menyambar”. Ia tak pernah punya pengalaman memasuki cinta dari pintu samping “tetesan embun”, ia selalu mengenal dari pintu depan “petir menyambar”. Ia pernah mencoba untuk meretas jalan menuju pintu samping tapi selalu gagal. Dan, saat ini ia masih terperangkap dalam ruang cinta “petir menyambar”nya di masa lalu. Jadi? Tertutup sudah kesempatanku untuk menjadi pengalaman “tetesan embun” pertamanya. Biarpun ia tak nyata, kami tak pernah bertatap muka, bertukar suara, melempar tawa, tapi aku terkesan padanya. Loncatan kata-kata, emotication senyum yang berceceran, dan sebait puisi darinya kubungkus rapi, dan kuletakkan di pojok hati, di tumpukan paling atas karena siapa tahu cerita bisa direstart kembali.  Ah, sekali lagi, aku kembali menjadi pemeran figuran, tapi aku suka dengan dialog-dialog dalam adegan film ini….

Lalu sekarang bagaimana? Aku seperti adegan terakhir dalam film Cast Away, karyawan FedEx yang punya integritas tinggi dengan mobilnya berada di perempatan jalan yang sepi. Akan berbelok kemanakah?

Semoga (segera) ada alamat jelas yang bisa kutuju…

2 Comments

Polos vs Cerdik (2-4 Jan 2015)

Satu hal yang patut dicatat sebagai pesan dari miniseri korea berjudul “Dong Yi, Jewel in the Crown” adalah situasi yang menunjukkan bahwa hanya orang-orang jujur & pintar dengan dilengkapi kecerdikan lah yang menang di akhir kisah.

Kejujuran dan kepintaran saja akan tak mampu membuat seseorang bisa bertahan, apalagi memenangkan pertarungan antar maksud-maksud tertentu.

Kepolosan akan meruntuhkan pertahanan. Kepolosan justru menciptakan jendela hingga maksud baik dapat diintip lalu kemudian diputar balik. Kepolosan memicu bumerang.

Kecerdikan yang licin perlu dipelajari untuk menjadi alat agar maksud baik dapat diwujudkan jadi tindakan yang merubah kondisi.

Maksud baik, kejujuran, kepintaran harus mampu mengendarai kecerdikan agar selamat sampai tujuan.

Leave a comment

Menjadi Berbeda

Menjadi berbeda bisa merintikkan gerimis sudut mata.
Menjadi berbeda membutuhkan perisai, sekedar membungkus dada.

Sendiri diantara beberapa.
Mencuat atau tertelan?

Berdiri mematung di sudut, sembab.
Sekedar menghindar dari luka?

Surabaya-Gresik, 4 Oktober 2014

Leave a comment

Kepada Yth. Sulurliar

Dear sulurliar, sulur-sulur yang masih mampu tetap liar,

Saya juga sulur-sulur, tetapi saya tidak liar. Dulu saya pernah liar, merambat, menjuntai, melekat, menyelisip sesuka hati. Dengan lompatan perasaan yang sama seperti kau rasakan. Jika kau merasa berdenyar, maka saya bergetar.

Tapi sekarang, saya tidak bisa menjadi liar. Saya dipotong secara rutin. Panjang dan bentuk saya tak boleh berbeda dengan tetangga. Jika saya ingin menggeliat, melipat atau bergelung, saya harus menoleh ke kanan dan ke kiri. Anehkah saya?
Jika aneh, sulur-sulur di sekeliling saya akan menatap heran. Ada juga yang penuh curiga dan bahkan ada setitik makna melecehkan.

Sulurliar, saya merasa kaku dan ketat karena tak bisa lagi bergerak atau berdiam merenung. Saya tak boleh ekstrem. Saya harus tidak berbeda dari mereka. Jika saya bergerak teratur, ritmis, rapi, memiiki pola yang mudah dimengerti,  mereka tuduh saya membosankan. Sebaliknya, jika saya mulai menemukan gerakan baru, melenting, memantul, menusuk, menghujam, menampar, mereka anggap saya terlalu blablabla.

Ah, sulurliar, saya merindukan hutan bukan dinding dan pot tanaman. Saya merindukan embun bukan air menyemprot dari selang. Saya merindukan tanah hitam bukan sekam basah dari toko tanaman. Saya merindukan semilir angin bukan hembusan udara buangan mesin pendingin.

Saya merindukanmu untuk mengajari kembali bagaimana menjadi liar dan berdenyar…

Adore and miss you,
Sulur (yang tak lagi) liar

wpid-img_20150104_223441.jpg

Leave a comment

Hak untuk Berbahagia

Setiap orang memiliki hak untuk (memperjuangkan dirinya menjadi) berbahagia. Sayang sekali jika hak itu tidak digunakan.

Ada beberapa alasan jika seseorang tidak memperjuangkan hak itu. Mungkin ia tahu tapi dipenjara sesuatu hingga hilang bentuk dan tak tahu cara menyudahinya.

Mungkin ia tahu tapi tak mau/enggan memperjuangkan karena energi untuk itu jauh lebih besar daripada energi untuk sedih, menggerutu & mengutuki keadaan.

Mungkin ia tak tahu bahwa harus  berjuang dulu agar berbahagia. Ia mengira bahagia akan jatuh dari langit seperti Mr. Bean.

Mungkin ia tahu tapi tak tahu bagaimana harus berjuang.

Mungkin ia tahu bagaimana harus berjuang tapi tak pernah berhasil menjadi bahagia.

Masih banyak lagi kemungkinan yg terjadi, tapi apa sih sebenarnya “berbahagia” itu?

Hmm…ini membutuhkan diskusi yang panjang.

Berbahagia bagiku adalah menikmati hari libur sebagai hari libur tanpa mengerjakan tugas/pekerjaan yang tidak pernah selesai di kantor dan tanpa dihantui rasa bersalah karena telah melupakan pekerjaan-pekerjaan itu sejenak.

Ini sederhana bagi kalian, mungkin…
Tapi tidak bagiku…
Tapi aku akan tetap berjuang untuk berbahagia, dengan caraku…

Selamat berhari minggu,
Selamat melupakan pekerjaan kantor,
Selamat tertawa lepas,
Selamat berbahagia…

Leave a comment

Kesepian adalah…

Kesepian adalah ada ruang hati yang kosong tanpa tahu apa/siapa yg bisa mengisinya.

Kesepian adalah ada denyut yang terkunci dalam ruang pengap tanpa lubang untuk mengintip atau menghisap angin segar.

Kesepian adalah sulitnya menemukan alasan untuk meneteskan tawa yang benar-benar dari lubuk hati.

Kesepian adalah mengetik definisi kesepian di pojok kamar…

Leave a comment

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.