Bulan (hampir) Purnama

Bulan (hampir) purnama.
Seperti mereka, tak pernah tuntas bercengkrama.
Seperti dia, menyisakan rongga terbuka.

Seperti kami, membiarkan kalimat berakhir dengan tanda tanya.

Menjadi purnama
bulat sempurna.

Haruskah?

FRO
25 Oktober 2018

Advertisements

Leave a comment

Inti Vs Kembangan

(Latihan Menulis H8)

Tiba-tiba saja saya ingat nasihat dari guru saya tentang bagaimana kita memandang suatu aktivitas, peristiwa ataupun barang.

Beliau mengatakan bahwa semua hal itu mengandung inti juga mengandung kembangan. Makna dari inti mengarah pada fungsi utama. Sedangkan istilah kembangan mungkin hanyab akrab di telinga kami para orang Jawa. Kalau diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia mungkin mengarah pada sisi lain atau tambahan yang sifatnya mendukung.

Seluruh 24 jam kita berisi banyak aktivitas. Karena terlalu sibuknya kadang kita tidak bisa merasakan dan membedakan mana yang inti dan mana hanya kembangan.

Kita makan intinya untuk kenyang, butuh piring dan sendok garpu. Perkara bahan dan model piring adalah kembangan.

Kita memakai baju intinya untuk melindungi diri dan menutupi aurat. Perkara jenis kain, model dan motif adalah kembangan.

Kita berangkat bekerja intinya adalah perjalanan dan sampai tujuan dengan selamat juga tidak terlambat. Memakai kendaraan pribadi atau angkutan umum adalah kembangan.

Kadang sulit juga membedakan mana inti dan mana kembangan. Kita setiap hari bekerja. Kerja adalah intinya, tapi kadang emosi kita teraduk-aduk oleh hal yang bersifat kembangan, misalnya menanggapi gosip dan cerita buruk lainnya.

Kadangkala kita lebih perhatian pada hal-hal yang bersifat kembangan, bahkan sampai harus mengalahkan yang inti.

Kadangkala beorientasi pada yang inti atau fungsi terasa tidak menarik, datar-datar saja, tidak keren, ketinggalan zaman, dan lain-lain.

Tapi di sisi lain, kembangan juga sangat dibutuhkan untuk menciptakan nuansa cantik, indah, dan mengesankan.

Tinggal bagaimana kita menggabungkan keduanya dan memberi porsi yang semestinya.

Semoga kita tidak mudah terjebak (terlalu lama) menomorsatukan kembangan, lalu mulai mengesampingkan yang inti.

FRO

12 Oktober 2018

Leave a comment

Sanding, Banding, atau Tanding?

(Latihan Menulis H8)

Kata atau kalimat yang memiliki rima menarik, mudah mengendap di kepala saya. Salah satu contohnya adalah rangkaian kata ini: sanding, banding, dan tanding.

Salah satu dosen mata kuliah entah Asas-asas Arsitektur atau Teori Arsitektur pernah menuturkan bahwa kritik dan apresiasi terhadap arsitektur itu bisa dengan melakukan tiga hal yaitu sanding, banding, dan tanding.

Saat itu beliau tidak menjelaskan bagaimana caranya secara lebih dalam. Mungkin karena kami mahasiswa S1, jadi kuatir malah mengacaukan pemahaman. Coba saat itu kami ini mahasiswa magister, mungkin dari 3 kata itu sudah lahir banyak tugas 😂

3 kata itu menimbulkan rasa penasaran, bahkan sampai sekarang. Biarpun saya tidak tahu secara pasti, apa salahnya mencoba menyandingkan, membandingkan, menandingkan ya? Kalau ada salah-salahnya, mohon dimaklumi…

Sanding

Sanding selalu mengarah pada hal yang harmonis misalnya pertemanan, persahabatan, perkawinan. Tidak ada unsur konfrontasi sama sekali di dalamnya. Jika kita menyandingkan beberapa bangunan, beberapa elemen, atau beberapa barang maka yang terjadi adalah keselerasan.

Beda tak masalah, asalkan yang satu tidak menghalangi yang lain, yang depan tidak menghabiskan ruang hingga yang belakang merasa terbuang, yang kanan tidak menyikut yang kiri, dan sebagainya.

Bersambung….

Leave a comment

(pe)rencana

Kau ukur hingga seribu. Ternyata yang terhampar hanya sepuluh.

Kau siapkan ruang hingga sepuluh. Ternyata terisi penuh hanya separuh.

Kau buka dinding dan sekat. Ternyata tetap saja mereka merasa terikat, tak berani bergerak cepat, apalagi melesat.

Menurutmu, apa aku harus bisa menjawab mengapa semua jadi begitu?

Tentu. Karena kau kan (harus) serba tahu.

Itu tugasmu, agar asa yang terlanjur diukir di batu, tak menjadi semu..

(Latihan menulis H7)

FRO

10 Oktober 2018

Leave a comment

Leap Frog

(Latihan Menulis H6)

Leap Frog atau lompatan katak. Apa istimewanya dengan kata ini?

Paling tidak, ada dua pengalaman pribadi yang sangat membekas berkaitan dengan kata leap frog.

Bagi anda yang pernah jadi mahasiswa jurusan planologi atau Perencanaan Wilayah Kota (PWK), pasti sudah sangat akrab dengan kata ini. Para dosen mungkin sudah menggambar di papan tulis atau mendeskripsikan panjang lebar tentang seberapa besar peranan pembangunan kota yang cenderung leap frog seperti lompatan katak dalam menciptakan kondisi urban sprawl.

Pembangunan yang cenderung sporadis melompat ke beberapa arah tanpa konsep dapat menggambarkan kondisi leap frog. Kalau dalam bahasa jawa, leap frog bisa didefinisikan sebagai pembangunan yang mencar-mencar atau mrenco-mrenco.

Sedangkan urban sprawl kalau dijelaskan dalam bahasa sederhana adalah pembangunan yang melebar memanjang sampai jauh kemana-mana membutuhkan area lahan yang sangat luas sehingga perlu infrastruktur penghubung yang boros. Singkatnya pembangunan menuntut banyak dukungan hingga boros baik di aspek lahan, teknologi, dan sumber daya lainnya. Kalau dalam bahasa jawa urban sprawl dapat digambarkan pembangunan yang mblarah atau mbleber tutuk endi-endi.

Pembangunan kota-kota di Amerika banyak yang terjebak dalam kondisi urban sprawl. Jalur kereta api dan jalan bebas hambatan dibangum menghubungkan antar kota besar. Ruang antar kota tersebut diisi dengan area permukiman yang luas biasanya milik kaum menengah ke atas. Istilah suburban sering dipakai untuk menjelaskan ruang antara itu.

Warga yang tinggal di daerah suburban biasanya bekerja di pusat kota besar, sehingga mereka adalah kaum commuter. Kawasan suburban ini juga membutuhkan dukungan infrastruktur baik jalan, air bersih, gas, listrik, telekomunikasi, dll. Bayangkan betapa borosnya kita jika banyak dibangun kawasan suburban yang lokasinya seperti leap frog lompat ke sini dan ke sana.

Istilah leap frog ini menarik bagi saya ketika menerima penjelasan dosen saat itu. Di benak saya langsung tergambar beberapa screen film hollywood dengan rumah-rumah cantik bercat putih, berpagar kayu, tetapi tanpa pagar depan. Hanya ada halaman rumput luas yang langsung berbatasan dengan trotoar dan jalan berpohon rindang. Hmm pikiran melayang… untunglah lamunan itu segera bisa saya buyarkan. Kalau saat kuliah pikirannya diisi dengan lamunan, ilmunya jadi tidak kebagian tempat dong…😀

Nah, pengalaman kedua pun tidak keluar dari ruang kelas perkuliahan.

Penjelasan dari dosen kalau terlalu tekstual akan sulit diingat oleh mahasiswanya. Sebaliknya, jika penjelasan itu disisipi dengan cerita pengalaman pribadi juga masalah terkini sebagai contoh, maka akan mudah mengendap di ingatan para mahasiswanya.

Entah dimulai dari penjelasan tentang topik apa, tiba-tiba salah satu dari dosen saya menceritakan tentang bagaimana cara kerja bakat seseorang yang diberikan oleh Sang Pencipta.

Singkatnya, pasangan sang dosen adalah penulis. Ia tidak butuh waktu yang cukup lama dan energi yang besar untuk menghasilkan sebuah tulisan misalnya cerpen atau puisi yang bagus. Ketika disampaikan pada surat kabar atau penerbit, tulisan itupun mudah mendapatkan tempat untuk dimuat/dijadikan buku.

Jika dibandingkan dengan sang dosen yang harus merenung lebih dahulu sebelum menemukan ide tulisan, lalu membuat konsep tulisan yang tidak segera selesai. Hasil tulisannya pun tidak bisa dikatakan bagus.

Moral of the storynya adalah jika seseorang melakukan aktivitas yang ternyata aktivitas itu adalah bakat pemberian dari Tuhan, maka ia akan melakukannya dengan sangat mudah, tidak menghabiskan waktu dan energi, bahkan prestasinya pun bisa langsung melompat seperti leap frog menjadi yang baik atau yang terbaik. Sekali melompat langsung menjadi yang terbaik. Ada energi Tuhan yang dititipkan dalam diri kita berupa bakat. Jika sudah “klik” dengan bakat itu, maka tinggal “go”. Menghemat energi dan waktu, bukan?

Menjadi tidak sederhana jika sampai saat ini ternyata kita belum dapat menemukan bakat yang diberikan Tuhan dalam diri kita. Kita jadi seakan boros energi dan waktu sekedar untuk beringsut/berjalan/berlari mencapai sebuah prestasi tertentu yang mungkin bukan bakat kita.

Menemukan bakat memang bukan hal yang mudah. Itulah mengapa para orang tua gigih mengajak anaknya terlibat dalam banyak aktivitas seni dan olahraga menarik untuk menemukan bakat anaknya.

Tapi perlu diingat, bakat itu tidak melulu berwujud kemampuan seni dan olahraga. Masih banyak diantara kita yang menyederhanakan ruang lingkup bakat menjadi menyanyi, drama, menulis, akrobat, bermusik, memasak, dan lain-lain. Berdebat, berpikir sistematis, berdiplomasi, juga termasuk bakat, tapi sayangnya kurang mendapat pengakuan. Mungkin karena kurang menarik penonton ya?

Dalam ranah yang lebih spiritual, penulis A. Fuadi dalam novelnya berjudul Negeri 5 Menara menorehkan kalimat yang maknanya sama seperti cerita inspiratif dari dosen saya.

Inti yang disampaikan Fuadi di halaman 106 adalah tujuan manusia hidup bukanlah sekarang tapi ada yang lebih besar dan prinsipil yaitu menjadi manusia yang telah menemukan misinya dalam hidup….bila kalian merasakan sangat baik melakukan suatu hal dengan usaha yang minimum. Mungkin itu adalah misi hidup yang diberikan Tuhan. Carilah misi kalian masing-masing…

Kalimat ini sangat menarik bagi saya, Goresan pensil saya gunakan sebagai penanda.

Ustad Salman dalam novel itu sama posisinya dengan dosen saya: sedang menginspirasi muridnya.

Bagaimana dengan bakat kita? Bagaimana dengan bakat saya? Bagaimana dengan bakat Anda?

Selamat merenungi diri sendiri…:-)

Terima kasih untuk semua dosen saya yang telah membagi ilmu dan menbangkitkan kesadaran. Mohon maaf jika dalam penjelasan saya masih banyak kesalahan. Itu artinya saya harus membuka-buka lagi buku catatan 🙂

FRO

10 Oktober 2018

2 Comments

Membaca atau Menimbun Buku?

(Latihan Menulis H5)

Setiap kali Big Bad Wolf (BBW), sebuah ajang jual buku dengan diskon heboh, menyerbu kota-kota besar maka akan menjadi kegelisahan tersendiri bagi orang-orang yang suka buku. Antara kalap ingin memborong semua tetapi kondisi dompet belum tentu klop dengan harapan.

Hari ini adalah hari terakhir BBW di Surabaya dan kali ini telah memasuki tahun ketiga.

Sudah sebarapa boroskah Anda selama ini?

Apakah setiap event BBW Anda selalu kalap membeli buku?

Nah, sampai hari ini apa buku-buku yang dibeli itu sudah dibaca semua? Hhmm…

Suka buku, belum tentu suka baca buku lho, karena ada juga yang hobinya menimbun buku, seperti saya contohnya. Membeli dan menimbun, syukurlah kalau sempat ditata rapi. Sebenarnya saya juga suka membaca, tapi tidak ada waktu dan kesempatan. Ah, itu alasan yang paling klise (tapi kenapa cek news feed di fb dan ig bisa seharian ya? Hmm….)

Sebenarnya, betulkah buku masih diminati sampai saat ini? Jika tidak, mengapa BBW masih ramai dikunjungi? Mengapa publisher indie banyak bermunculan? Mengapa penerbit-penerbit besar tetap langgeng? Mengapa 2 tahun terakhir perpustakaan jalanan hidup di ruang publik kota-kota? Mengapa toko buku tidak segera merugi? Kalau begitu (mestinya) Buku masih diminati dong.

Apakah hal yang sama terjadi pada buku-buku arsitektur & desain? Tampilan, kertas, tata letak buku-buku itu berkesan lux dan sebanding dengan harganya yang mahal. Apa ya masih ada yang berminat membeli ya?

Buku arsitektur & desain masih diminati meski tidak seramai counter buku lainnya

Sementara di instagram banyak sekali muncul akun arsitektur dan desain yang membagi gambar-gambarnya secara gratis. Bahkan sehari bisa berkali-kali mengunggah foto bangunan dan lansekap dari seluruh penjuru dunia dan karya para arsitek ternama di dunia. Nah, isi buku yang mahal itu sekarang menjadi barang yang sangat mudah didapat, sangat murah.

Apa benar buku-buku arsitektur dan desain yang dulu terlanjur dibeli mahal akan dinikmati gambarnya juga dibaca? Kalau sehari lebih dari 3 kali kita bisa mendapatkan gambar bangunan indah?

Sangat mungkin jika buku-buku yang telah dibeli itu cenderung ditimbun bukan dibaca…

Salah satu akun di instagram yang kerap mengunggah foto bangunan indah

Kita seperti dihujani gambar-gambar indah di instagram. Tapi, eits, tunggu dulu…gambar-gambar ini seringkali pelit informasi. Lokasi dan nama bangunan masih disampaikan, tetapi jarang dimunculkan informasi tentang nama arsiteknya. Yang banyak kita temui adalah icon @ dan # sampai beberapa baris ke bawah.

Lalu, jika mau tahu tentang latar belakang pemikiran dan proses kreatif arsiteknya, bagaimana? Mau tidak mau kita harus googling lagi dengan keyword tertentu. Akhirnya, daripada susah, terima saja informasi yang ada.

Maka jadilah kita menjadi penikmat gambar indah (saja) tanpa mengenal lebih jauh tentang konteks latar belakang dan proses kreatifnya.

Lama kelamaan bosan juga ya? Kadang kita jadi merindukan penjelasan informatif singkat tapi padat (meski seringkali menggunakan kosa kata yang sulit sehingga kita kerepotan hehehe). Kadang kita juga penasaran akan cerita apa yang melatari lahirnya ide-ide brilian itu.

Informasi itu hanya bisa kita dapatkan dari buku (yang harganya mahal itu). Jadi, tunggu apa lagi, segera nikmati lagi buku yang telah dibeli beberapa tahun yang lalu. Nikmati tulisannya bukan hanya gambarnya ya…

Jadi, Satatnya membaca buku (lagi) bukan hanya menimbun…

Selamat membaca…😀

Saya hanya beli 2 buku, berhasil ga kalap :-). Semoga bisa segera dibaca…

2 Comments

My First Love

(Latihan Menulis H4)

Yup, saya jatuh cinta pada pandangan pertama pada bangunan kolonial sejak saat masih duduk di bangku SMA!

Saat masih SMA kelas 1, kakak laki-laki saya sedang semangat-semangatnya memupuk hobi fotografi. Sedangkan kakak sepupu saya baru saja dibelikan kamera bagus oleh orang tuanya.

Pada suatu ketika, Jurusan Arsitektur ITS mengadakan lomba foto dalam rangka memperingati Lustrum ke-6 dengan tema bangunan tempo doeloe.

Klop, jadilah mereka berdua hunting kesana-kemari nganyari kamera baru. Saya sebagai adik terkecil diajak juga. Sampai suatu ketika, kita memotret gedung HVA (Handels Vereneging Amsterdam) yang saat itu sampai sekarang berfungsi sebagai kantor PTPN di Jl. Merak Surabaya.

Woow…kesan pertama saya sudah langsung suka. Gedung yang megah berwana coklat muda dan memiliki banyak lekukan di tiangnya. Mereka memotret, saya menguntit tanpa banyak bicara.

Waktu pengumpulan foto makin dekat. Harus segera dipilah dan dipilih mana yang harus diikutkan lomba. Mereka berdua bingung, banyak yang menurut mereka layak tapi ada batasan jumlah foto yang boleh didaftarkan. Akhirnya banyak foto yang dipertimbangkan, termasuk bangunan HVA.

Pilihan jatuh foto bangunan HVA berlatar depan hamparan rumput hijau dan pohon cemara. Sebagian tertimpa cahaya pagi hingga membiarkan sisi lainnya tetap gelap temaram. Foto itu diberi judul “Teduh”.

Dan, foto itu berhasil juara! Saya lupa urutan ke berapa. Mereka bersorak, hasil karya mereka mendapatkan pengakuan.

Sebagai juara, mereka datang sendiri ke Jurusan Arsitektur ITS untuk mengambil hadiah, saya pun ikut sebagai penggembira. Saya lupa apa saja hadiahnya, tapi ada satu yang membuat saya terpana.

Sebuah buku kecil mengulas Selayang Pandang Surabaya Tempo Doeloe. Seperti ada magnetnya, saya U, dia S! Buku kecil itu langsung saya lahap isinya. Tidak paham semua, banyak kata-kata sulitnya…gambarnya agak tidak jelas, tapi mengapa saya suka ya?

Namanya saja jatuh cinta…😊

Cinta pertama saya pada bangunan tua

Akhirnya, saudara sepupu mengikhlaskan buku itu untuk saya simpan. Betapa senangnya….sampai sekarang masih sering saya buka-buka. Ada inspirasi lahir setelah saya menikmati gambar dan tulisannya..

Terima kasih Cak Irul & Mbak Uung telah mempertemukan kami: ya, saya dan bangunan-bangunan tua itu 😀

FRO

6 Oktober 2018

2 Comments