Gedung PT. BBI Unit Diesel “Crane Putar”
Alamat : Jl. KH. Mas Mansyur 229, Surabaya
Tahun Pembangunan :
1878 (menurut dokumen Perencanaan Pelestarian Benda-benda Cagar Budaya, Pemerintah Kota Surabaya, 2003)
1823 (menurut Perkembangan Kota dan Arsitektur Kolonial Belanda di Surabaya, Ir. Handinoto, 1996)
Surabaya pada tahun 1800-an mulai memiliki kesadaran untuk menjadi kota industri. Daendels sebagai gubernur jendral memandang pertahanan kota perlu ditopang oleh beberapa bengkel yang dapat memproduksi dan memperbaiki peralatan pertahanan.
Di sisi lain, bisnis angkutan juga mulai menggeliat akibat dibukanya beberapa daerah pedalaman yang subur di sekitar Kota Surabaya sebagai penghasil komoditi ekspor. Kebaradaan bengkel juga sangat dibutuhkan untuk memastikan bahwa sarana angkutan dan proses pengolahan bahan baku dapat beroperasi dengan baik.
Pada tahun 1808, pabrik baja pertama didirikan dan diberi nama Constructie Winkel (bengkel konstruksi) di Werfstraat no. 3 (sekarang Jl. Penjara No.8). Bengkel konstruksi ini adalah pertama dan terbesar pada saat itu telah dilengkapi dengan mesin cor, pertukangan kayu, mesin bubut dan beberapa jenis lainnya.
Tak bisa dielakkan, industri terus berkembang. Seorang usahawan Belanda mendirikan bengkel konstruksi di Kampemenstraat (sekarang Jl. KH. Mas Mansyur). Bengkel bernama N.V Nederlandsch Indische Indistrie ini juga merambah bidang reparasi kapal-kapal kecil karena dilengkapi dengan sebuah dermaga menghadap Kalimas pada sisi belakang bangunan. Sampai saat ini masih berfungsi sebagai pabrik motor diesel milik PT. Boma Bisma Indra.
Pada tahun-tahun berikutnya menyusul dibangun bengkel-bengkel konstruksi lainnya. Pembuatan ketel dan mesin untuk menyuplai pabrik gula dipusatkan di derah kota bawah (sekitar Jembatan Merah). Bengkel untuk mendukung keperluan angkutan laut dibangun di Ujung pada tahun 1849. Setelah tahun 1911, Gemeente (Pemerintah Kota) Surabaya memutuskan kawasan Ngagel dijadikan kawasan industri. Hampir seluruh bengkel ini dibangun di sepanjang tepi Kalimas. Apakah untuk memudahkan pembuangan limbah ataukah memudahkan pengangkutan bahan melalui transportasi air? Mungkin banyak alasan yang mendasarinya…
Surabaya, 2 Oktober 2010
Perkembangan Kota dan Arsitektur Kolonial Belanda di Surabaya, Ir. Handinoto, 1996
