Malang, Kota Pelajar Tempo Doeloe

Usia Kota Malang dalam menyandang sebutan Kota Pelajar sudah tidak muda lagi. Gedung sekolah didirikan oleh Belanda jauh sebelum kemerdekaan Indonesia. Sekolah setingkat MULO (pendidikan dasar yang diperluas setingkat Sekolah Lanjutan Pertama) mulai didirikan sekitar tahun 1914. Menyusul dibangun gedung- gedung sekolah dari berbagai tingkatan dalam kurun 10 tahun mulai tahun 1926 tahun 1936. Sekitar 12 buah sekolah didirikan ditambah dengan sekolah khusus berbahasa Cina.

Jumlah sekolah yang banyak dan jenjang pendidikan yang tersedia dengan lengkap ini menegaskan bahwa warga Belanda di Malang menganggap pendidikan adalah hal yang penting. Fasilitas pendidikan dididrikan untuk menyokong kelangsungan kehidupan mereka. Pendidikan ditujukan selain untuk menempa generasinya juga untuk mendukung lembaga keagamaan (Gereja Katolik).

Ada tiga buah Sekolah Dasar European Legare School, sebuah Sekolah Dasar Hollandsch-Chineesche School dan tiga buah Sekolah Dasar untuk Pribumi yang dinamakan Inlandsche Scholen der 2e Klase (sekolah Ongko Loro) dibangun di Kota Malang. Sayangnya tidak ada satu pun gambar yang berhasil didokumentasikan sehingga keindahan gedung sekolah ini hanya bisa kita bayangkan. Sayang sekali gambar Sekolah Ongko Loro yang berada di SpeelmanStraat (sekarang Jl. Mojopahit) dan di Klojenlor dan di Temenggoengan ini dapat ditemukan karena sangat berarti bagi sejarah dan perkembangan Pendidikan Nasional Indonesia.

Ada baiknya kita mulai mengklasifikasikan bangunan berdasarkan tahun pendiriannya. Penanggalan ini menjadi penting karena gaya dan aliran dalam arsitektur cepat mengalami perubahan meskipun dalam hitungan tahun. Ternyata tidak mudah untuk mengartikulasikan aliran/gaya yang muncul pada era ini, sebab antara tahun 1920 sampai 1940-an berbagai aliran dan gaya bertumbuh sangat pesat di Benua Eropa. Gaung itu terdengar cukup nyaring di Hindia Belanda, sehingga banyak gedung yang didesain berdasarkan trend yang berkembang saat itu. Akan tetapi para arsitek yang berkarya di Kota Malang kurang terpengaruh gejolak perkembangan aliran yang sedang terjadi , tidak seperti di Bandung dan di Batavia.

Frataerschool dan Zusterschool

Biro arsitek Hulswit, Fermont & Ed. Cuypers  merancang Frataerschool dan Zusterschool di Jl. Tjelaket dan dibangun tahun 1926 . Dua gedung sekolah ini dibangun untuk mendukung Lembaga Keagamaan gereja Katolik Di Malang. Penekanan yang bersifat religius terasa kuat pada kedua bangunan ini. Terlihat dari bentuk jendela yang mengerucut ke atas pada bangunan Fraterschool. Bentuk seperti busur ini menyimbolkan persembahan pada Keagungan Tuhan seperti bentuk jendela pada gereja-gereja yang beraliran Gothic. Kaidah simetris peninggalan masa Renaissance masih dilestarikan. Bangunan berlantai dua ini tampil lebih akrab tanpa hadirnya kolom-kolom ionic/doric yang terkesan monumental.

Pernak-pernik ornamen ciri khas aliran Neoklasik (aliran Renaissance yang terpengaruh Gothic) masih dipakai untuk mempercantik bagunan, misalnya lantern beratap indah dan cukup mencolok berada di tengah atap.  Sedangkan pencahayaan dan penghawaan alami didapat dari jendela dan ventilasi yang cukup banyak jumlahnya. Ada variasi bentuk jendela yang dimainkan dengan irama tertentu, misalkan pada bangunan tengah, bentuk jendela yang mengerucut ini diulang lagi pada kedua bangunan di sisinya sebagai ventilasi. Komposisi ini melahirkan sebuah bangunan cantik yang kaya ornamen hasil dari padu padan beberapa ragam bidang. Estetika bangunan ini dicapai dengan mencampurkan komposisi bidang-bidang dan garis dengan ornamen-ornamen khas Neoklasik.

Zusterschool, dihiasi jendela-jendela lancip.

Zusterschool saat ini, tetap dilestarikan.

Terdapat banyak kemiripan antara gedung Fraterschool dan Zusterschool yang memang dirancang oleh Biro Arsitek yang sama. Bangunan Zusterschool juga menganut kaidah keseimbangan simetris dan memiliki jendela dalam jumlah banyak. Pada bangunan di sisi kiri dan kanan terdapat gevel dengan hiasan jendela bebentuk busur yang mirip dengan yang ada di Fraterschool. Kemiripan ini akibat dari kesamaan orientasi fungsi bangunan yaitu religius, maka tidak mengherankan jika banyak kemiripan dengan bangunan gereja Katolik di Kota Malang.

Fraterschool di Jl. Tjelaket, Malang

Bangunan Fraterschool masih dijaga keindahannya. Sayang, lantern di puncak atap sudah tak nampak

Dempo

Sekitar tahun 1930, dibangun SMA Dempo di kompleks perumahan villa di daerah elit Burgenbuurt. Sampai saat ini Arsitek bangunan ini belum diketahui. Sekolah ini juga didesain dengan bentuk yang simetris. Kesan kokoh dan monumental terasa kuat setelah kita melihat gambar bangunan ini. Gedung dengan jendela persegi yang teratur rapi ini mulai terpengaruh gaya International Style yang berciri sederhana. Tidak terlihat hiasan pada atap maupun dinding, ini artinya bangunan mulai meninggalkan pengaruh Neoklasik. Sisa pengaruh gaya ini terlihat pada pelengkung pintu utama.

SMA Dempo, mulai terpengaruh International Style

HBS/AMS

Tepat tahun 1931, gedung Sekolah HBS/AMS di depan Aloon-Aloon Bunder dibangun. HBS (Hoogere Burger School) adalah Sekolah Tinggai Warga Negara/Sekolah Menengah Belanda, sedangkan AMS (Algemeene Middlebare School) yaitu Sekolah Mengengah Umum). Site yang strategis sekali bagi Ir. W. Lemei dari Landsegebouwendienst (Jawatan Gedung Negara) untuk berkarya. Bersamaan dengan pembangunan gedung ini, dibangun Pula Gedung Balai Kota yang terkesan monumental sehingga bangunan dengan sengaja dibuat satu lantai dan berkarakter villa agar kegagahan Gedung Balai Kota tidak tertandingi.

Bentuk site yang tidak simetris adalah tantangan yang harus ditundukkan Lemei agar dua gedung sekolah yang berkesan simentris dapat dibangun diatasnya. Tuntutan ini membutuhkan sebuah pemikiran yang cukup rumit dan kompleks.

atap pelana bertumpuk bangunan HBS/AMS karya W. Lemei

Meski direncanakan untuk berkompromi dengan kemegahan Balai Kota, tidak seluruh bangunan berlantai satu, tetapi juga dikombinasikan dengan bangunan berlantai dua. Gedung besar berlantai satu yang terletak di tengah bangunan berfungsi sebagai tempat olahraga (Gymnasium) dan aula yang dipakai bersama -sama. Ruang-ruang yang bersifat umum seperti perpustakaan, ruang guru, ruang direktur, dan ruang baca juga diletakkan pada area ini. Ruangan ini bersifat fleksibel karena batas-batas ruangan dibuat dari partisi semi permanen sehingga mudah untuk dipindahkan. Sistem penataan yang open plan seperti ini menjadi kegemaran Arsitek beraliran Modern di kemudian hari. Sedangkan bangunan kelas, laboratorium, ruang gambar, KM/WC yang bersifat lebih privacy berada pada bangunan berlantai dua yang ada dibelakangnya. Lambrisering (tembok setinggi 2 meter) dipasang untuk membatasi ruang guru dengan ruang kelas. Pemasangan ini ditujukan untuk menempelkan gambar atau pengumuman lain agar bisa dilihat oleh para siswa. Secara keseluruhan kompleks bangunan diikat oleh gallery yang menghubungkan semua bangunan. Gallery ini juga berfungsi untuk menyaring sinar matahari dari arah Timur dan Barat. Sistem penataan yang seperti ini membuat gedung ini memiliki courtyard yang cukup luas di tengah-tengah kompleks bangunan yang diolah menjadi taman-taman indah yang menyegarkan.

Mengacu pada tata letak banguan Sekolah HBS/AMS yang menempatkan courtyard (taman dalam) di dalam kompleks bangunan, maka kemungkinan besar sekolah-sekolah yang sudah kita bahas sebelum ini juga memiliki courtyard pada sisi dalam bangunan. Selain indah, courtyard juga berfungsi sebagai cerobong udara yang selalu siap sedia untuk mengalirkan udara agar suasana di dalam ruangan tetap nyaman.

Gallery yang menghubungkan seluruh bangunan di lantai satu memakai konstruksi dinding pemikul dengan bukaan berbetuk busur lancip yang menjadi ciri khas gereja Gothic. Dari sini saya membuat dugaan bahwa ada hubungan dekat antara pendidikan dengan agama. Karena bentuk-bentuk yang religius tidak mungkin dimunculkan secara tidak sengaja pada bangunan sekolah. Benang merah yang menghubungkan kedua hal ini adalah keformalan. Baik Gereja maupun sistem pendidikan, keduanya bersifat formal.

Bentuk atap bangunan bergaya villa ini memiliki sudut kemiringan yang tajam sehingga citra bangunan tropis muncul begitu kuat. Semua bangunan beratap pelana, hanya pada bangunan berlantai satu yang berada di tengah diberi atap pelana yang dengan sistem tumpuk. Bentuk atap seperti ini mengakibatkan tampak bangunan menyerupai sebuah rumah , sehingga bangunan ini tidak terkesan monumental.

Banyak sisi menarik lain tentang bangunan sekolah karya Lemei ini yang dapat diceritakan. Misalkan tentang material yang digunakan pada atap datar tempat menyimpan sepeda yang terbuat dari sirap kayu besi yang berasal dari American Sheet and tin plate Company. Lemei juga memainkan warna pada tangga yang dicat dengan warna merah kecoklatan, sedangkan kayu pada tempat sepeda diberi warna coklat dan oranye gelap yang dipadu dengan warna biru tua pada talang. Dinding yang diplester diberi warna putih. Coba, sejenak kita bayangkan perpadua warna itu, betapa semaraknya suasana sekolah HBS/AMS ini. Terbukti sudah bahwa Belanda benar-benar serius dalam mendesain gedung sekolah agar kegiatan didalamnya dapat berlangsung dengan nyaman.

Pemandangan yang cantik...

Neutrale Lagere School

Gedung sekolah HBS/AMS ini tergolong paling unik bila dibandingkan dengan gedung sekolah lainnya yang memiliki banyak kemiripan. Mayoritas gedung sekolah di Kota Malang berlantai dua dengan volume atap besar dan berbentuk perisai. Ciri ini juga terlihat pada gedung Neutrale Lagere School yang dibangun setelah tahun 1930 dan Christ MULO School yang dibagun pada taun 1936.

Neutrale Lagere School

christ MULO school

Sampai saat ini menurut buku yang ditulis Ir. Handinoto Dan Ir. Paulus H. Sorbargo M, Arch, arsitek perancang kedua gedung ini belum diketahui. Kedua bangunan inipun memiliki kemiripan terutama dalam hal pengolahan tampang bangunan dengan jendela-jendela vertikal yang disusun dengan irama yang konstan. Kesan vertikalisme adalah ciri dari Aliran International Style yang memang sedang dianut oleh mayoritas arsitek pada masa itu. Anehnya kaidah simetris masih juga dilanggengkan pada kedua gedung ini.

Dari sekian gedung yang sudah kita bicarakan, dapat diambil hipotesa bahwa kesimetrisan adalah sebuah hal yang semestinya dilakukan untuk menciptakan sebuah citra formal pada gedung sekolah. Juga keformalan dan keteraturan harus tercermin pada bangunan untuk menegaskan fungsi lembaga pendidikan yang membuat generasi muda Belanda menjadi lebih teratur dan beradab. Sedangkan kesan monumental diciptakan untuk menjaga kewibawaan lembaga pendidikan pada masa itu.

Sampai saat ini,  Malang  masih menyandang sebutan Kota Pelajar, dengan warna yang lebih modern..

Februari, 2005

  1. #1 by eko magelang on July 7, 2010 - 9:43 am

    wah kelihatannya saya kudu jalan-jalan lebih lama lagi di Malang ni mas,baca postingannya
    agar lebih dekat menikmati bangunan2 bersejarah itu

    saya juga mengemari bangunan kuno , bisa klik di http://www.jelajahkuno.blogspot.com

  2. #2 by RAGIL on August 29, 2011 - 4:46 am

    TAK DISANGKO, TERNYATA DI MALANG BANYAK BANGUNAN KUNO YG CANTIK-CANTIK….KUDU DILESTARIKAN. JANGAN SAMMPAI BERGANTI DENGAN BANGUNAN RUKO, MOL APALAGI SARANG WALET,,,,,,

    • #3 by sulurliar on January 8, 2012 - 9:41 am

      iya, pelestarian cagar budaya memang kasus yang sepertinya mudah, tapi sulit dilaksanakan. butuh kerjasama antara masyarakat, pemerintah, pihak swasta, media massa dan perguruan tinggi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.