Archive for June, 2010

Malang, Kota Pelajar Tempo Doeloe

Usia Kota Malang dalam menyandang sebutan Kota Pelajar sudah tidak muda lagi. Gedung sekolah didirikan oleh Belanda jauh sebelum kemerdekaan Indonesia. Sekolah setingkat MULO (pendidikan dasar yang diperluas setingkat Sekolah Lanjutan Pertama) mulai didirikan sekitar tahun 1914. Menyusul dibangun gedung- gedung sekolah dari berbagai tingkatan dalam kurun 10 tahun mulai tahun 1926 tahun 1936. Sekitar 12 buah sekolah didirikan ditambah dengan sekolah khusus berbahasa Cina.

Jumlah sekolah yang banyak dan jenjang pendidikan yang tersedia dengan lengkap ini menegaskan bahwa warga Belanda di Malang menganggap pendidikan adalah hal yang penting. Fasilitas pendidikan dididrikan untuk menyokong kelangsungan kehidupan mereka. Pendidikan ditujukan selain untuk menempa generasinya juga untuk mendukung lembaga keagamaan (Gereja Katolik).

Ada tiga buah Sekolah Dasar European Legare School, sebuah Sekolah Dasar Hollandsch-Chineesche School dan tiga buah Sekolah Dasar untuk Pribumi yang dinamakan Inlandsche Scholen der 2e Klase (sekolah Ongko Loro) dibangun di Kota Malang. Sayangnya tidak ada satu pun gambar yang berhasil didokumentasikan sehingga keindahan gedung sekolah ini hanya bisa kita bayangkan. Sayang sekali gambar Sekolah Ongko Loro yang berada di SpeelmanStraat (sekarang Jl. Mojopahit) dan di Klojenlor dan di Temenggoengan ini dapat ditemukan karena sangat berarti bagi sejarah dan perkembangan Pendidikan Nasional Indonesia.

Ada baiknya kita mulai mengklasifikasikan bangunan berdasarkan tahun pendiriannya. Penanggalan ini menjadi penting karena gaya dan aliran dalam arsitektur cepat mengalami perubahan meskipun dalam hitungan tahun. Ternyata tidak mudah untuk mengartikulasikan aliran/gaya yang muncul pada era ini, sebab antara tahun 1920 sampai 1940-an berbagai aliran dan gaya bertumbuh sangat pesat di Benua Eropa. Gaung itu terdengar cukup nyaring di Hindia Belanda, sehingga banyak gedung yang didesain berdasarkan trend yang berkembang saat itu. Akan tetapi para arsitek yang berkarya di Kota Malang kurang terpengaruh gejolak perkembangan aliran yang sedang terjadi , tidak seperti di Bandung dan di Batavia.

Frataerschool dan Zusterschool

Biro arsitek Hulswit, Fermont & Ed. Cuypers  merancang Frataerschool dan Zusterschool di Jl. Tjelaket dan dibangun tahun 1926 . Dua gedung sekolah ini dibangun untuk mendukung Lembaga Keagamaan gereja Katolik Di Malang. Penekanan yang bersifat religius terasa kuat pada kedua bangunan ini. Terlihat dari bentuk jendela yang mengerucut ke atas pada bangunan Fraterschool. Bentuk seperti busur ini menyimbolkan persembahan pada Keagungan Tuhan seperti bentuk jendela pada gereja-gereja yang beraliran Gothic. Kaidah simetris peninggalan masa Renaissance masih dilestarikan. Bangunan berlantai dua ini tampil lebih akrab tanpa hadirnya kolom-kolom ionic/doric yang terkesan monumental.

Pernak-pernik ornamen ciri khas aliran Neoklasik (aliran Renaissance yang terpengaruh Gothic) masih dipakai untuk mempercantik bagunan, misalnya lantern beratap indah dan cukup mencolok berada di tengah atap.  Sedangkan pencahayaan dan penghawaan alami didapat dari jendela dan ventilasi yang cukup banyak jumlahnya. Ada variasi bentuk jendela yang dimainkan dengan irama tertentu, misalkan pada bangunan tengah, bentuk jendela yang mengerucut ini diulang lagi pada kedua bangunan di sisinya sebagai ventilasi. Komposisi ini melahirkan sebuah bangunan cantik yang kaya ornamen hasil dari padu padan beberapa ragam bidang. Estetika bangunan ini dicapai dengan mencampurkan komposisi bidang-bidang dan garis dengan ornamen-ornamen khas Neoklasik.

Zusterschool, dihiasi jendela-jendela lancip.

Zusterschool saat ini, tetap dilestarikan.

Terdapat banyak kemiripan Read the rest of this entry »

3 Comments

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.