seseorang boleh…

Seseorang boleh cengeng, menangis sejadi-jadinya karena ngeri terhadap kegagalan/kehilangan/kematian. Tapi, tidak setiap hari! Terlalu banyak hal patut disyukuri yang akan terlewatkan, sayang sekali….

Seseorang boleh terluka, menganga, membara. Tapi, tak boleh mengusik mimpi,  mengubah arah!

Seseorang boleh menyerah. Tapi, tak boleh takut memulai ayunan langkah!

Seseorang boleh sesukanya. Tapi, tak boleh menyiksa!

Sahabat

(untuk PLAI)

Jika butir air tergelitik oleh terik
Ia terbang, memeluk siang
Aku butir air, engaku siang

Jika mega gelisah
Ia tumpah, menangis pada tanah
Aku mega, engaku tanah

Surabaya, 4 April 2009

Garis Langit

(untuk: FRO)

kumimpikan samudra
kau pernah tawarkan sebentang bibir pantai yang indah

(diterbangkan oleh angin,
mimpi-mimpi leluhur sampai pada gendang telinga,
“Nak, kau harus tiba di garis langit,
burulah pelangi!
Melesatlah bersamanya.”)

kukeringkan samudra
kulipat bentangan bibir pantai yang indah

(bekal air mineral masih sisa setengah
jangan risau, cukup untuk melangkah ke segala arah)

Surabaya, 18 Mei 2009

Lomba Mengikat Kepiting

berita pagi ini: diadakan lomba menangkap dan mengikat kepiting di Desa Manyar Sidomukti Kabupaten Gresik Jawa Timur untuk memperingati dirgahayu Republik Indonesia.

Harusnya seluruh lomba di Indonesia diadakan dengan cara seperti ini. Sangat mendidik dan menghibur

Masyarakat nelayan mengadakan lomba mengikat kepiting. masuk akal kan?

dua ekor kepiting diletakkan dalam sebuah bak. seorang anak menangkap kepiting itu dengan menekan badannya terlebih dulu, lalu menyergap capitnya dari arah belakang. beres, kepiting sudah di tangan…. tapi eiiit…. air liur mau menetes dari bibir yang ngowoh karena terlalu konsentrasi. kepiting diikat dan siap dijual!

terlihat wajah-wajah sumringah dari anak-anak peserta lomba itu, diselingi jeritan ketakutan dari penonton anak-anak. mereka kaget, karena ada salah satu peserta yang iseng berpura-pura mau melemparkan kepiting yang berhasil ditangkapnya. Seru!

Sudah waktunya lomba mengempit balon, lomba makan krupuk, lomba menggigit sendok yang ada kelerengnya mulai diganti dengan lomba-lomba yang seru dan bermanfaat seperti lomba mengikat kepiting itu. lomba yang mendidik dan realistis (bisa dimanfaatkan untuk mendapatkan sedikit rupiah).

Betapa bahagia anak-anak di Desa Manyar Sidomulyo, Gresik. bagaimana tidak, pekerjaan menangkap dan mengikat kepiting yang mungkin menjadi pekerjaan sehari-hari mereka, sekarang menjadi lomba dengan iming-iming hadiah macam-macam. Sudah saatnya Kemerdekaan RI dirayakan dengan lomba yang begitu membumi dan lekat dengan budaya dan nafas ekonomi setempat.

misalkan, anak-anak di sekitar kampung penjual lontong banyu Urip Surabaya diikutkan lomba membuat bungkus lontong dari daun pisang. lalu anak-anak di Kenjeran Surabaya dibuatkan lomba membersihkan ikan dan kerang, mengasinkan ikan, merangkai kalung dari kerang, membuat souvenir, pigura, dsb dari kerang.

masih banyak ragam budaya dan kebiiasaan masyarakat yang bisa diolah menjadi ragam lomba yang kreatif. jika masyarakat pemilik budaya tersebut mau sedikit berkorban pikiran, waktu dan tenaga.

Dengan begitu, anak-anak tidak tercerabut dari akar lingkungannya sambil tetap merasa terhibur, terbahak-bahak bahagia….

terlalu lama menunggu tahun 2015, 2025, 20…hingga kurikulum pendidikan bangsa kita hirau akan potensi dan akar budaya dan ekonomi setempat seperti yang diimpikan oleh Ratna Megawangi, Miranda Risang Ayu, Gola Gong dan semua pakar/pemerhati pendidikan bangsa ini…

terlalu lama.
kenapa tidfak dimulai dari hal-hal yang kecil (dan menyenangkan) dulu?

Agustus 2008h

Musim Kering

(untuk: masa lalu)

Menyimak, remah-remah ragu

rontok dari proses-proses semu.

Menelan ludah kering,

menemukan diri

: tergeletak, tak penting.

Wahai,

ini sama sekali bukan keadaan genting!

karena terjadi, terlalu sering..

Surabaya, 3 Mei 2009.

(disebabkan buku Animal Farm, aku mengenangmu sekali lagi.

kau mendekap buah hati, aku mendekap mimpi.

Diri, bisakah kau tak mudah terpelanting lagi?)

Experiencing Architecture

Teringat mata kuliah Teori Arsutektur yang diasuh Pak Bambang Soemardiono.
Ada tiga langkah untuk menggauli arsitektur (yang dijejalkan Beliau pada otak kta).
Kalau tidak salah yang pertama Making Architecture, lalu Understanding Architecture, terus Experiencing Architecture.
Jangan tanya tentang detailnya, aku sudah lupa, pokoknya berisi nama-nama filsuf eropa yang sulit dihafal dan pemikiran-pemikiran mereka yang susah dipahami.

Yang jelas, experiencing architecture akan kuterjemahkan secara harfiah yaitu mengalami arsitektur. Melangkahkan kaki masuk ke bangunan hasil karya Romo Mangun membuat keringat diinginku mengalir deras (meski suasana di Wisma Kuwera sangat teduh ditingkahi angin semilir). Beginikah rasanya mengalami arsitektur?
Unforgettable..

Sebagus apapun angle yang diambil sang fotografer dalam menangkap Wisma Kuwera, tidak bisa mengungkapkan spirit/ruh ruang, bahan, detail, redup cahaya yang membangun keindahan Wisma Kuwera….! Tidak akan pernah bisa!

Menyentuh indah detail bangunan pada kartu pos, yang kutemu cuma halus+imajinasi di kepalaku tentang tekstur detail bangunan itu. Tapi, menyentuh langsung, mengelus-elus, merasakan dingin lantai plester berhias garis-garis bersudut lancip, meraba dinding bata, dinding bambu, menikmati bunyi kriyet-kriyet jembatan bambu, mengintip panorama melalui jendela bundar, menyusuri ruang demi ruang bagai labirin…

Itu semua tak bisa dipindah lewat media foto dan gambar. Hanya bisa dialami. Komposisi material yang disandingkan dengan manis olh Romo Mangun (yang tertangkap seluruh indera kita) hanya bisa kita kunci rapat-rapat dalam peti kenangan kita, agar keindahannya tak menguap.

Boleh kan aku memahami arsitektur dan mengalami arsitektur tanpa (sempat) menciptakan aristektur?

Boleh dong…(hehehe tak jawab sendiri)

Agustus 2008

Samar-samar

semakin hari samakin tidak akur, antara aku dengan mendung, antara aku dengan hujan.

mendung, berturut-turut di pagi hari.
membangkitkan rindu yang samar-samar.
pada sesuatu yang samar-samar.

mendung menyisakan sepotong kenangan yang selalu bergelayut.
hujan memompa keluar kenangan yang tak mau hanyut.

yang kumimpi sederhana. cukup sederhana.
bilik dengan jendela menghadap bunga kertas yang menyemak, bunga matahari yang berbaris.
bilik yang meninabobokan gelisah.
bilik bernaung atap menjulang.
hingga lonjakan-lonjakan cakrawalaku tak dianggap gersang.

mendung meredupkan pagi hari.
hujan memanggang mimpi.

Agustus 2008

Sketsa

mengenang masa kuliah;

Sketsa

untuk sthapati

kucari jejak-jejak Mangunwijaya

di coretanmu

yang kutemu justru sembilu

……..menghujamku………

tepat di ulu

………………tapi aku terlanjur pucat……………..

hingga matiku cukup senyap

tak ada meriah warna merah

hanya beberapa butir debu hinggap

22 April 2003.

Halte

(untuk cybermate)

bercerita pada angin

kemilauku terkuak (kau reguk)

menguarkan kegamangan (redup seketika)

tak apa.

luka _tidak_ kian menganga

kubuang serapah

mulai melangkah.

9 juni 2008

Di dalam bus

(untuk teman seperjalanan)

bertutur tentang asa pada trotoar

tak sempat mengantuk

mendongak

memilah

menyusuri

mengendus

setiap jengkal kemungkinan

9 Juni 2008

(terimakasih pada Qonik atas analoginya)

Next Page »